Achievement

  • Follow Us

Pemenang Testimoni Terbaik Program Karakter Individual Siswa TKK 1 PENABUR Jakarta

Date: August 6, 2012 Author: admin Categories: Achievement

Pada akhir Tahun Ajaran 2011-2012, TKK 1 memilih 3 orang pemenang testimoni terbaik program karakter individual siswa. Adapun pemenangnya sebagai berikut :

1. Edward James Budiwijaya

a. Sebelum anak saya sekolah di TKK 1 PENABUR Jakarta, saya melihat kedisiplinan yang belum terbentuk pada dirinya. Beberapa contoh yang bisa saya uraikan : Belum bisa taat untuk mandi pagi, makan sendiri serta berbagi (saat makan). Setelah mengikuti program pembentukan karakter anak secara individual selama enam bulan, mulai terlihat perkembangan pada Edward. Ia sudah dapat sharing mainan saat bermain, makan sendiri tanpa disuapi, mandi pagi sebelum berangkat sekolah serta yang paling berkesan adalah ia mau “BAB” di toilet training, pada hari yang sama saat Ibu Jesly memberikan ‘ceramah’ kepada Edward untuk menepati janjinya (11/11/11). Beberapa bulan terakhir, Edward sudah terbiasa untuk pergi ke toilet sendiri saat buang air kecil tanpa meminta bantuan orang di sekitarnya, berpamitan saat keluar rumah serta menyapa/menawarkan ke orang lain saat makan.

b. Edward seringkali menyuruh orang lain mengambil barang/mainan yang ia jatuhkan sendiri dan menangis jika tidak dipenuhi. Sekarang ia mengetahui apa yang harus ia lakukan saat barangnya terjatuh. Hampir setahun Edward mengikuti program ini di sekolah dan saya sebagai orang tua sangat bangga karena Edward mempunyai inisiatif sendiri untuk membereskan mainan setelah selesai dan berdoa malam dengan kata-katanya sendiri. Edward sangat senang bersekolah dan yang terpenting, ia menikmati hari-harinya di sekolah.

2. Sebastian Reinhart Kristanto

Seperti orang tua pada umumnya, tentu perkembangan anak menjadi fokus nomor satu, apalagi dimasa tumbuh kembang yang begitu cepat di awal-awal sekolahnya. Saya teringat saat itu anak saya adalah anak yang manja, mungkin karena dia belum ada saudara kandungnya. Setiap kali mau sekolah mesti dipaksa, dibujuk, dirayu. Kalau tidak bisa nangis dulu karena dia lebih memilih untuk main ketimbang berangkat ke sekolah. dana rasa egois yang tinggi pun bisa dilihat, semua mainan adalah punya Sebastian. Kalau nonton tv atau nonton komputer tidak mau berhenti, jika diberhentikan dia akan nangis dan marah. Disuruh makan, mandi, semua dijawab “nanti”.

Tawar menawar rasanya sudah menjadi kebiasaan setiap harinya. Sejak awal masa ajaran sekolah, saya ingat dibagikan kartu yang harus diisi orang tua. Dimana guru-guru akan membantu disekolah dengan cara akademik. Dan ternyata setiap review saya melihat perkembangan yang cukup baik, terjadi perubahan-perubahan. Memang ada yang benar-benar nyata bisa dirasakan seperti, Sebastian tidak pernah nangis kalau disuruh ke sekolah. Dia hanya nanya, hari ini sekolah atau libur ?.

Sekarang Sebastian lebih suka makan sendiri ketimbang disuapin, memang kalau manjanya lagi muncul, namanya anak kecil, ada kalanya disuapin, hanya saja tidak sering seperti dulu lagi. Dan dia sekarang bisa berbagi mainan, tontonan, tanpa marah-marah lagi. Malah sekarang maunya mandi sendiri, pakai baju sendiri, sikat gigi sendiri, pakai kaos kaki dan sepatu sendiri. Saya sangat senang dan bangga, Sebastian mengalami kemajuan dalam karakternya.

3. Eliana Diantha Janice

Sebagai orang tua yang masih ‘miskin’ pengalaman dalam mendidik anak karena saya dan suami baru memiliki 1 anak, ditambah dengan lingkungan keluarga (Kakek & Nenek) yang cukup protektif terhadap cucu satu-satunya, membuat Janice tumbuh sebagai anak yang kurang percaya diri. Terlihat dari pengalaman pertamanya masuk sekolah, Janice membutuhkan waktu sampai dengan 3 minggu untuk merasa ‘belong’ dengan lingkungan sekolahnya yang ditandai dengan berhenti menangis.

Perasaan kurang percaya diri ini pun terlihat dari kurang aktif & cenderung pendiam pada awal-awal sekolah di Kelompok Bermain, sangat berbeda kondisinya bila dirumah. Hal ini sangat disayangkan karena potensi sesungguhnya tertutupi dengan perasaan tidak nyaman & kurang percaya dirinya tersebut. Ketika teman-temannya yang lain sudah berani menyapa dan menjawab bila ditanya, Janice masih memilih diam dan membiarkan saya yang menjawab pertanyaan. Karenanya ketika sekolah memperkenalkan program pembentukan karakter dengan meminta orang tua mengisi karakter-karakter mana saja yang ingin dibentuk kearah yang lebih positif, saya menuliskan “Percaya diri” sebagai kendala Janice yang membutuhkan perhatian dan penanganan lebih lanjut.

Selama 1 tahun Janice dibina untuk ditumbuhkan rasa percaya dirinya dengan meminta Janice untuk sering tampil di depan kelas, membantu Ibu Guru membagi-bagikan buku kepada teman-teman dan diceritakan cerita-cerita yang mendukung membesarkan hatinya serta diadakan permainan-permainan yang membuatnya berani berkompetisi, saya mulai merasakan hasilnya. Janice terlihat lebih percaya diri dengan mulai ‘lepas’ dari mamanya untuk melakukan kegiatan bersama dengan teman-temannya baik di sekolah maupun sekolah minggu, lebih berani bicara termasuk menjawab pertanyaan atau bertanya kepada orang lain, lebih bisa mengungkapkan perasaan hatinya dan yang sangat membuat saya lega adalah Janice mulai mau ikut serta dan tampil dalam acara Natal dan Paskah gereja yang mana menurut saya dibutuhkan keberanian besar terutama bagi Janice untuk dilihat oleh banyak orang.